Sejarah

kombes jogja

“ Kami pemoeda-pemoedi Indonesia,bersoempah….
Bertanah air jang satoe , tanah air Indonesia.
Berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia,
Berbahasa jang satoe, bahasa Indonesia…”

Indonesia telah merdeka lebih dari setengah abad yang silam, akan tetapi benarkah kita sudah merdeka dalam pengertian sejati? Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Indonesia memang tak lagi dijajah secara langsung oleh bangsa asing namun secara faktual negara-negara kapitalis tetap menancapkan pengaruh yang sangat kuat terhadap Indonesia, melalui instrumen geopolitiknya.

Flasback kesejarahan menghikayatkan, sejarah kebangsaan Indonesia selalu berjalan terseok-seok dibelakang sejarah dunia. Awal abad XX, pasca perang dunia I tahun 1916, terjadi penggeseran konstalasi geopolitik Internasional. Segelintir lapis utama kaum terdidik Boemiputra yang tergabung dlam perhimpunan pemuda seperti Jong Celebes, Jong Java, dan sebagainya melihat ada celah untuk merumuskan dan mendeklarasikan kepada dunia tentang bangkitnya sebuah bangsa baru, yaitu bangsa Indonesia (Nation Of Indonesia) pada tahun 1928, inilah momentum pertama bangsa Indonesia mampu membangun konssesus nasional sebagai sebuah bangsa (Nation). Ditikungan sejarah ini para pemimpin indonesia mampu mencuri momentum dengan memproklamirkan kemerdekaan indonesia pada 19 Agustus 1945. Inilah konsesus kedua bangsa Indonesia setelah Soempah Pemoeda ’28. Yaitu penciptaan negara-negara Indonesia ( Nation State Of Indonesia ).

Babakan sejarah Indonesia selanjutnya berjalan dengan segala pasang surutnya. Hal ini mengakibatkan tabrakan antar berbagai pihak. Selain itu, bangsa kita disandera dan didikte oleh negara asing melalui ideologi developmentalism dibawah komando rezim orde baru. Dalam lintasan sejarahnya, watak dan posisi negara ternyata bermetamorfosa sesuai dengan kebutuhan dan arus setting Global. Sementara, diparuh pertama awal pemerintahan SBY-Budiono belum menorehkan prestasi apapun, justru sebaliknya tak berdaya dihadapan pressure negara asing. Negeri ini berada diatas ambang kehancuran, hal ini ditandai dengan ancaman disintegrasi keutuhan NKRI.

Hal yang sama terjadi didaerah Brebes, PEMDA tidak mampu memberikan perubahan yang signifikan terhadap kemajuan daerah. Masyarakat mendambakan perubahan yang kongkrit yang bisa dirasakan langsung. PEMDA cukup lamban untuk mengangkat masyarakat Brebes dari kemiskinan, bahkan dianggap gagal total. Hal ini bisa kita lihat IPM Jawa Tengah. Brebes Urutan ke 35 dari 35 kabupaten / kota yang ada di Jawa Tengah.

Sejak Reformasi, arus demokrasi sangatlah kuat, keterlibatan mahasiswa dan pemuda sangat signifikan dan turut berpartisipasi sebagai elemen bangsa dan agen perubahan. Mahasiswa Brebes yang pada saat ini adalah motor penggerak perubahan ditingkatan daerah untuk meningkatkan SDM dan menumbuhkan SDA yang ada didaerah Brebes. Kegelisahan kawan-kawan ditingkatkan birokrasi daerah yang hari ini menjadi kegelisahan yang komplek, porsi dan partisipasi yang diberikan masih sangat minim. Kota Brebes yang merupakan kota yang maju dan luas, masih belum mampu untuk mengakomodir dan menampung aspirasi dari elemen-elemen mahasiswa dan kaum intelektual lainnya, khususnya mahasiswa dan kaum intelektual muda Brebes Selatan. Maka dari ini semua kita atas nama KOMUNITAS KELUARGA MAHASISWA DAN PELAJAR BREBES SELATAN (KOMBES) mampu untuk menampung aspirasi dan mengakomodir semua elemen bangsa yang ada disektor selatan, dan sebagai agen perubahan Kota Brebes.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s