Pentingnya Silaturahmi di KOMBES

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung Silaturahimnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dari penggalan hadist diatas, cukuplah menegaskan kepada kita betapa pentingnya silaturahim diantara kita. Bahkan Allah swt, menyuruh kita untuk menyambung tali silturahim, yang tertulis di Al-Qur’an surat An-Nisa ayat pertama :

“… dan bertakwalah kepada Allah yang kalian saling meminta dengan nama-Nya dan sambunglah tali Silaturahim.”

Dalam menjalankan tali silaturahim-pun, tidak ada batasan, itupun Allah swt perintahkan, masih di surat yang sama (An-Nisa) pada ayat 36 :

“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.”

Ayat diatas sangat menegaskan, bagi siapa yang tidak menjaga hubungan silaturahim—termasuk orang yang sombong dan membanggakan diri dimata Allah swt!

Dan pada ayat diatas yang artinya ‘tetangga dekat dan tetangga jauh’, dekat atau jauh disini ada yang mengartikan dengan tempat, hubungan kekeluargaan, dan ada pula antara yang muslim dan yang bukan muslim. Sedangkan maksud dari ‘Ibnu Sabil’ ialah orang yang dalam perjalanan yang bukan maksiat, yang kehabisan bekal—Termasuk juga anak yang tidak diketahui ibu bapaknya. Continue reading

Wadah Yang Besar Untuk Jiwa Yang Besar Pula

Seorang murid tampak murung di hadapan gurunya. Ia sengaja mendatangi sang guru karena satu alasan: mencari solusi dari seribu satu masalah yang seperti tak pernah henti menderanya. Belum masalah yang satu selesai, masalah baru pun muncul, berkembang, dan seterusnya.

“Guru, kenapa hidupku teramat sulit. Masalah seperti tak pernah mau menjauh dariku,” ungkap sang murid menunjukkan wajah galaunya. Semangat belajarnya seperti akan pupus dengan seribu satu masalah hariannya.

“Muridku, perhatikan apa yang akan aku lakukan dengan segelas air tawar ini,” ucap sang guru sambil memasukkan sebungkus serbuk jamu kedalam gelas.

Setelah diaduk, sang guru pun mempersilakan muridnya untuk mencicipi air yang berubah kehijauan itu. “Silakan kau coba!” ucapnya lembut.

Sang murid pun meraih gelas itu untuk kemudian mencicipinya. “Pahit! Pahit sekali guru!” ucapnya begitu spontan. Tapi, sang murid masih belum mengerti dengan segelas jamu itu. Continue reading