Biaya Pemilukada Yang Besar, Apakah Bisa Mensejahterakan Rakyat ???

Rakyat Kecil vs Orang yang berduit !

Rakyat Kecil vs Orang yang berduit !

Sekarang di daerah Brebes, sudah mempersiapkan Pemilukada ditahun 2012 ini. Untuk saya yang masih awam, dan tak tahu apa-apa hanya, bisa membayangkan untuk apa sebenarnya pesta demokrasi ini ? Menggunakan uangnya siapa ???? dan banyak yang lainnya.

Ketika itu saya, pulang ke daerah Bumiayu, dan hendak melaksanakan suatu kegiatan bersama teman-teman Kombes, untuk kegiatan Sosialisasi di SMA Islam Bumiayu. Dan sayapun melihat, didepan Rumah Sakit (kalau nggak salah), dekat dengan SMAI ada semacam acara yang disitu terpampang nama bupati Brebes yang sekarang, dan akan menyalonkan diri lagi untuk periode 2012-2017 ini. Sebelumnya, saya juga banyak sekali melihat kalender yang terpampang diwarung-warung dan juga di sekolah-sekolah !, Spanduk, dan juga baliho yang besar, di pertigaan jalan lingkar talok. mmmm

setelah selesai saya melaksanakan kegiatan di SMAI, sayapun bersama teman saya beranjak pergi ke SMA BU Bumiayu, untuk konfirmasi perihal kegiatan sosialisasi untuk besok. Dan sayapun kaget, ketika mendengar ada pengumuman di SMA BU, bahwa nanti malam ada acara–apa saya kurang memperhatikan–yang akan didatangi oleh bupati brebes, dan kepada guru-guru untuk datang menghadirinya, dan juga siswa yang berada di bumiayu, untuk ikut juga menghadirinya. Seperti itu kurang lebih pengumumannya. sayapun heran, ada apa ini ? apa ini sudah sering terjadi, karna saya jarang keluar-keluar, atau hanya pada tahun 2012 ini “Karena akan ada pemilukada 2012” ????

Sayapun mencoba menganalisa, dengan pengetahuan yang seadanya.

“Kalau nyalon jadi bupati itu, ada 2 kemungkinan. Menang atau Kalah… so pasti, kalau ada pemilukada, pasti ada kampanye. nah kampanye ini, membutuhkan biaya yang sangat mahal, lah trus nanti kalau kalah bagaimana ? apakah akan menghalalkan segala cara untuk, terpilih ? trus, kalaupun menang, dari mana uang untuk balik modal ? apakah kalian (yang mencalonkan diri menjadi bupati dan wakil bupati) mengorbankan begitu banyak uang untuk mensejahterakan rakyat ? atau hanya dusta belaka ?”

Saya masih ingat, kata dari Abraham Lincoln (Presiden Amerika 1860-1865) tentang demokrasi yaitu >> “from the people, by the people, and for the people” (dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat). ataukah, seperti kata Presiden amerika setelah Abraham Lincoln, Rutherford B. Hayes, pada tahun 1876 mengatakan bahwa kondisi di Amerika Serikat pada tahun itu adalah >> “from company, by company, and for company” (dari perusahaan, oleh perusahaan, dan untuk perusahaan). Jadi apa ini yang terjadi, apakah demokrasi ini, ditangan semua rakyat (dari yang miskin sampai yang kaya), atau hanya untuk segelintir rakyat saja (orang-orang yang mempunyai uang (kaya)). Ada apa ini, saya mulai ragu akan demokrasi, yang dulunya digembar-gemborkan, bahwa semua ini untuk rakyat, tapi pada kenyataannya, hanya untuk rakyat yang punya uang–banyak. !

Lalu akupun mencari tahu, sebenarnya berapa biaya yang diperlukan untuk pilkada ? akhirnya aku menemukan sebuah berita seperti dibawah ini :

Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi menyatakan bahwa untuk ikut pemilu langsung kepala daerah atau Pemilu Kada, seorang calon minimal harus menyiapkan uang sebesar 20 milyar rupiah. Padahal, gaji bupati hanya sekitar 8 jutaan per bulan. Itu pun sudah termasuk tunjangan.

“Minimal biaya yang dikeluarkan seorang calon Rp 20 miliar,” terang Gamawan seusai mendampingi Wakil Presiden Boediono membuka rapat pimpinan nasional (rapimnas) Gapensi di Istana Wapres, Jakarta, Senin (Kompas, 5/7/2010).

Budaya korup dan kapitalistik dalam pemilihan kepala daerah atau pilkada di Indonesia ternyata kian menggila. Bayangkan, seorang calon kepala daerah minimal harus menyiapkan dana sebesar 20 milyar untuk mengikuti pilkada. Untuk daerah basah, menurut Mendagri, bisa mencapai 100 sampai 150 milyar.

“Akan tetapi untuk daerah yang kaya, biayanya bisa antara Rp 100 miliar dan Rp 150 miliar,” ujar mantan Gubernur Sumatera Barat ini.

Jumlah fantastis itu sebenarnya tergolong biaya normal. Artinya, biaya akan membengkak kalau para calon mengalami sengketa soal hasil Pemilu Kada. Karena untuk mengurus ke ranah hukum, biayanya tidak murah.

Lalu, darimana para kepala daerah nantinya bisa balik modal? Karena untuk bisa dapat 20 milyar, seorang bupati dengan gaji sekitar 8 jutaan per bulan, harus menjabat bupati tidak kurang dari 200 tahun. Itu pun kalau gaji yang didapat sama sekali tidak dibelanjakan. Suatu hal yang sangat mustahil.

Hitung-hitungan semakin tidak masuk akal kalau jumlah dana mencapai 150 milyar. Karena butuh waktu sekitar 750 tahun untuk bisa mengembalikan modal pemilu kada sebesar itu.

Pertanyaan berikutnya, siapa yang paling diuntungkan dalam biaya calon peserta pemilu kada sebesar itu? Jawabannya, pihak yang paling diuntungkan dalam ‘pesta demokrasi gila’ ini adalah ‘kendaraan’ para kontestan, yang tidak lain partai-partai yang mengusung mereka.

Bayangkan, untuk tahun ini saja, sekitar 150 pemilu kada digelar di seluruh Indonesia. Kalau sebuah partai dapat 10 persen dari biaya seorang calon di tiap pemilu kada, tahun ini saja partai tersebut memperoleh pemasukan minimal 300 milyar (2 milyar x 150 pemilu kada).

Dari hitung-hitungan ini, tidak heran jika partai-partai politik saling berebut citra untuk menjadi partai yang bisa mendukung calon siapa saja. Tidak perduli lagi soal ideologi, yang penting bayarannya cocok.

source : http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/minimal-20-milyar-untuk-ikut-pemilu-kada.htm

Sungguh angka yang fantastis !

kenapa itu semua tidak digunakan untuk mensejahterakan rakyat. Tidakkah, kalian (para pemimpin di Indonesia) melihat masih banyak rakyat yang menderita, kelaparan, dan tidak bisa sekolah, sehingga tetap didalam jurang kemiskinan. Apakah, para pemimpin kita, tidak mempunyai hati nurani ?

Mungkin, hanya itu yang bisa saya sampaikan. Saya masih belajar. Semoga dari apa yang saya sampaikan bisa, bermanfaat untuk teman-teman sekalian. masih banyak yang ingin saya sampaikan, perihal keresahan yang ada dihati saya, kalau kalian ingin melihat tulisan-tulisanku, bisa mengunjungi blog saya… Kritik dan Saran saya tunggu, Terimakasih…

==========================================

Nama : Nafiul Mualimin

Pendidikan : Teknik Elektro, Universitas Islam Indonesia

E-Mail : nafi.zip56@yahoo.com

Website : nafiul.wordpress.com

==========================================

 

Bagi teman-teman KOMBES semua, bagi yang ingin, hasil tulisannya ingin dimuat di Blog Kombes, bisa mengirimkan E-Mail ke kombes18@yahoo.com… Tunjukan suara kalian pada dunia !

About nafi

Panggil saja Piul. :) Lahir 5 Juni 1992, di kota Tegal dari rahim seorang Ibu yang sangat cantik seperti bidadari, yang selalu dilindungi oleh seorang ayah yang hebat layaknya Malaikat dalam hidupku. Nafiul Mualimin sebagai nama dan doa yang mereka berikan padaku... Kata an-Nafi (asmaul husna - yang memberi manfaat) dan Mualim (orang mukmin yang berilmu). Menjadi orang yang bermanfaat dalam ilmu merupakan tujuan saya hidup didunia ini !

2 thoughts on “Biaya Pemilukada Yang Besar, Apakah Bisa Mensejahterakan Rakyat ???

  1. mantap ciinnn artikel’a.. wis dewek tah mahasiswa kye jadwale kuliah karo kapan menggilane pak ketuuu??? ahahahaha :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s